Minggu, 29 November 2020

Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman

Meraih kejayaan dengan kesempurnaan iman 

Malik bennabi, salah seorang intelektual muslim asal Aljazair, berpendapat bahwa masyarakat Islam hari ini adalah masyarakat “pasca peradaban” (marhalah maa ba’da al-hadharah). Artinya, masyarakat yang telah melampaui fase peradaban yang sudah jumud (Stagnan) pemikirannya dan bergerak ke belakang; tidak lagi produktif karena tidak menghasilkan karya-karya peradaban dan mengadakan perubahan-perubahan yang fundamental. Malik Bennabi, pemikir yang kerap disebut Ibnu Khaldun kedua ini bahkan menilai bahwa umat Islam sekarang adalah umat yang “al-qabiliyyah lil isti’ma” (masyarakat yang layak untuk dijajah).

Senada dengan ungkapan di atas, Fethullah Gulen, aktivis perdamaian asal Turki yang sangat berpengaruh, mengatakan bahwa krisis yang dialami oleh umat Islam sekarang adalah krisis yang multidimensi dan menyeluruh. mulai dari aqidah, akhlak, pola pikir, pendidikan, produktivitas, tradisi, budaya, bahkan hingga ranah sosial-politik.

mereka Terbelenggu Dalam kebodohan, dekadensi moral, klenik, dan hedonisme yang hanya ingin memuaskan syahwat jasmani. mereka sedang terbenam dalam kegelapan yang parah. mereka bingung Bagai anak ayam kehilangan induk, atau laksana biji-biji tasbih yang lepas dari tali perangkatnya. saat ini mereka sedang tertindas di bawah kaki kekuatan yang tak kasat mata. mereka tertekan dan terguncang, lemah tak berdaya, remuk redam, centang-perenang, dikoyak kuasa jahat, mereka semua kebingungan.

Penyebab keterpurukan

kondisi seperti yang digambarkan di atas, membuat Sebagai sebagian kaum muslimin merasa minder dan tidak percaya diri dengan identitas keislamannya (inferiority complex). di saat yang bersamaan, mereka lebih kagum dan terpesona dengan segala sesuatu yang berasal dari barat. realita yang sedemikian parah itu juga menjadi bahan sindiran oleh para orientalis. sebagaimana kisah yang dialami oleh Syekh mutawalli as sya'rawi saat berkunjung ke San Fransisco-Amerika. beliau ditanya oleh seorang orientalis, “Apakah ayat-ayat di Alquran seluruhnya benar?”, sang Syeikh menjawab dengan tegas, “iya, Saya yakin benar.” orientalis itu bertanya, “lagi lalu Mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal dalam al-qur'an disebut bahwa, “dan Allah Ah sekali-kali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. an-nisa: 141). sangat Syech menjawab, “karena kami masih Muslim belum Mukmin.”

Analisis yang sama dengan asy-Sya’rawi namun dalam bentuk kajian yang lebih detail, disampaikan oleh syakib arsalan ketika beliau membahas limadza ta’akhara muslimin wa limadza taqaddama ghairuhum (mengapa umat Islam mundur, sedangkan umat lainnya maju?). dalam risalah tersebut, setidaknya ada 5 faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam. Pertama, kebodohan. salah salah satu tandanya adalah mudah menerima kebohongan dan perkataan kosong. Kedua, kecanggungan. hal ini diakibatkan kurangnya pengetahuan. sehingga menjadi canggung (Gagap) teknologi dan kurang menguasai ilmu pengetahuan yang lainnya. Ketiga, kerusakan moral hilangnya kesantunan dan nilai-nilai budi pekerti luhur yang diajarkan oleh al-Qur’an. Keempat, penghianatan para pemimpin. perbuatan mereka merusak amal sosial-politik umat. Kelima, sifat penakut dan pengecut. merasa lelah, hina, lemah dan tidak berani berkorban. padahal Allah telah mengingatkan agar menghindari sifat-sifat tersebut. jika disimpulkan, menurut Syekh arsalan, dalam tubuh umat ini, tidak terlihat adanya tanda bukti-bukti keimanan sebagaimana yang diajarkan oleh Alquran.

Memahami konsep iman

Surat alhujurat ayat 14 yang sempat di singgung diatas, dengan sangat jelas membedakan antara “berislam” dan “beriman.” ketika membahas Ayat tersebut, dalam tafsirnya, al-maraghi mengutip perkataan Az-zajaj tentang perbedaan antara “berislam” dan “beriman.” Menurutnya, “Islam adalah menunjukkan ketundukan dan penerimaan terhadap apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dengan demikian nyawanya terlindungi. sedangkan apabila ketundukan dan penerimaan itu disertai dengan adanya keyakinan dan pembenaran di dalam hati, Maka itulah yang disebut dengan iman.” sedangkan menurut al-maraghi sendiri, ungkapan Alquran yang menyebut “kalian belum beriman”, menunjukkan gaya bahasa yang beradab. itulah kelembutan Alquran yang tidak berkata, “kalian telah berdusta!”

Asy-Syanqiti menjelaskan bahwa penegasan iman dalam ayat ini mengandung dua kemungkinan; pertama, kemunafikan. Sebab, orang Arab badui dalam ayat tersebut hanya menampakkan keislaman tapi batiknya masih kafir. Kedua, maksudnya adalah menafikan kesempurnaan iman, bukan menyatakan tidak ada keimanan sama sekali. pendapat kedua inilah yang dikuatkan karena memang menurut ahlussunnah wal jamaah, keimanan itu Bisa bertambah dan berkurang. dalam ilmu aqidah, disebutkan bahwa seluruh Iman seluruh Imam mazhab dan mayoritas ulama lainnya bersepakat bahwa definisi iman adalah, “tasdiqu Bil janan wa iqrarun bil lisan wa ‘amalun bil Arkan” (membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan).

Di dalam al-quran ada sekitar 25 ayat yang mengandung kan antara iman dan amal shaleh. hal ini menunjukkan bahwa keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. sebagaimana halnya cinta, iman menuntut adanya pembuktian, bukan sekedar ucapan. singkatnya konsep beriman dalam Islam tidak hanya sekedar keyakinan dalam hati. juga tidak sekedar beriman dengan rukun iman yang enam yaitu beriman kepada Allah, para malaikat, pada hari akhirat, para rasul, dan kitab-kitab mereka, dan takdir Allah. beriman dalam Islam harus ditunjukkan dengan bentuk perilaku. Jadi, orang yang sempurna keimannya, sudah pasti dia orang dia orang baik-baik yang jauh dari dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, membunuh dan lain-lainnya.

Iman sebagai syarat kejayaan

Allah ta'ala berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal saleh bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman Sentosa. mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan barangsiapa yang telah kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. an-nur 55).

ketika menerangkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa, “ayat ini merupakan janji dari Allah ta'ala kepada rasulnya Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa dia akan mengangkat para Khilafah dari umatnya sebagai pemimpin pemimpin manusia yang dan penguasa mereka. dengan mereka, negeri-negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk kepada mereka. janji diatas pasti akan terpenuhi karena Allah tidak pernah mengingkari janjinya. kata kunci yang menjadi syarat untuk meraih kejayaan adalah iman dan amal shaleh. tugas umat Islam adalah memantaskan diri untuk mendapat kejayaan dengan menjadi mukmin yang baik dan benar sebagaimana Allah yang sebagaimana yang Allah inginkan.

Meskipun bagi orang-orang atheis, orang Islam itu menerima harapan serta janji-janji yang tidak pasti dan tidak terbukti dalam kehidupan. buktinya umat Islam tetap miskin dan terbelakang dibanding masyarakat barat. Mereka rupanya tidak mengerti perbedaan antara Muslim dan Mukmin. orang yang mendapat janji itu orang yang beriman dan beramal saleh, sedangkan Kebanyakan orang Islam saat ini tidak beriman dan tidak beramal saleh, sehingga amal mereka tidak memadai untuk menerima janji-janji Allah yang disebutkan dalam Alquran. Alquran dengan jelas mengingatkan; “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal Kamulah (sebenarnya) adalah orang-orang yang (mempunyai derajat) yang paling tinggi, jika kamu sekalian beriman.” QS. Ali Imron 39). Padahal, negara-negara berideologi komunisme dan sosialisme ataupun yang berisi sistem kapitalisme, ternyata juga tidak menghasilkan kemakmuran, kesejahteraan, keadilan, dan pemerataan, seperti yang dijanjikan oleh ideologi tersebut. terlebih lagi, di soal kebahagiaan lahir dan batin.

1 komentar:

kitab tafsir al-Qurtuby

Contoh kitab Tafsir dan MetodologiPenulisannya Artikel ini ditulis oleh: M. jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, ...